I made this widget at MyFlashFetish.com.

Seorang Ibu Kebanggaan


Seorang Ibu Kebanggaan

Tak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Seperti halnya Ibu Dwiyanti Agustina atau yang akrab disapa Ibu Atik. Beliau lahir di Sleman, 24 Agustus 1966. Ibu 2 anak ini, bertempat tinggal di Nyamplung Kidul RT 01 RW 05, Balecatur, Gamping, Sleman.
Meskipun memiliki kekurangan fisik, beliau tetap memperjuangkan hidupnya. Sejak 9 bulan terakhir, beliau berprofesi sebagai pengelola angkringan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Karena ukuran kakinya yang tidak sama, seorang ibu rumah tangga ini pergi bekerja dengan berjalan jongkok. Akan tetapi, saat Bu Atik bepergian agak jauh beliau menggunakan kursi roda yang didapat dari seorang sukarelawan asal Kanada.
Sebelum memulai kariernya sebagai pengelola angkringan, beliau menuntut ilmu di SMP Negeri 1 Gamping. Kemudian beliau melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) selama 3 tahun. Di sekolah tersebut beliau selalu mendapatkan prestasi yang membanggakan. Setelah lulus dari SMSR, beliau tetap berkarya sebagai pembuat hantaran pengantin. Pada tahun 1992 Bu Atik bekerja sebagai pembuat topeng berbahan fiber di CV Karta Adipura yang merupakan perusahaan asing milik salah seorang warga Singapura.  Perusahaan tersebut memasarkan hasil produksinya ke Bali. Akan tetapi, pada tahun 2001 Bali terkena serangan bom sehingga perusahaan tempat Bu Atik mencari nafkah tidak dapat memasokkan hasil produksinya dan mengalami kebangkrutan. Kemudian, Bu Atik beralih profesi menjadi penjual makanan ringan di SD Negeri Nyamplung. Namun, karena persaingan dagang yang semakin ketat beliau berinisiatif membuat usaha dengan mendirikan angkringan. Dengan bermodalkan 200 ribu, kini beliau memiliki angkringan yang berdiri di atas lahan milik saudaranya. Beragam makanan dan minuman diproduksi sendiri oleh Bu Atik dan dijual disana. Menu yang disajikan di gubug kecil tersebut berbeda setiap harinya dan menyajikan 2 minuman khas, yaitu secang dan limun. Secang merupakan minuman berwarna merah yang pedas. Sedangkan limun adalah minuman seperti soda yang berwarna bening. Angkringan milik Bu Atik buka sejak pukul 6 pagi hingga pukul 8 malam. Selain berjualan dan membuat hantaran pengantin, Ibu yang merupakan Ketua Pedagang Asongan di daerah Balecatur ini juga memiliki pekerjaan sampingan, yaitu membuat coklat.
Penghasilan dari usaha angkringan per harinya yaitu sekitar Rp 40.000,00. Gaji tersebut disisihkan per minggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta untuk mewujudkan keinginannya yaitu mengembangkan usaha angkringannya dengan membuka warung yang lebih besar yang menjual beragam makanan dan minuman. Dengan dibantu suaminya yang bekerja sebagai buruh, Bu Atik dapat menyekolahkan kedua anaknya hingga anak pertama kini sudah bekerja serta anak keduanya yang bernama Kurnia Dewi Susilowati. Kini anak tersebut duduk di bangku kelas 6 SD. Kurnia Dewi Susilowati atau yang sering dipanggil Nia ini, tidak malu memiliki ibu yang cacat seperti Ibu Atik. Bahkan, ia malah bangga memiliki ibu seperti Bu Atik. Nia berharap, dia bisa membanggakan kedua orangtuanya, seperti menaikkan haji dan mengangkat ibunya agar dapat menjadi seorang wakil presiden.
Bu Atik selalu teringat pada salah seorang penjaga toko sepatu di daerah Depok. Dia berkata bahwa kaki Bu Atik hanya dipinjam oleh Tuhan, suatu saat Tuhan pasti akan mengembalikannya.
Motivasi agar Bu Atik selalu semangat dalam hidupnya adalah “Kita Harus Siap Hidup Mandiri”. Dengan motto itu Bu Atik akan selalu bekerja keras, tidak berpangku pada orang lain walaupun keadaan fisiknya tidak seperti manusia normal lainnya karena suatu saat kita akan ditinggal oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita sekarang.

2 komentar: